peranan pendidikan agama Islam terhadap pembentukan akhlak siswa di SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan
merupakan prosses dimana seseorang memperoleh pengetahuan (Knowledge
acquistion), mengembangkan keterampilan (skill developments) sikap
atau mengubah sikap (atitute change). Pendidikan adalah
pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam pendidikan formal dan non
formal, informal di kampus, dan di luar kampus. yang seumur hidup bertujuan mengoptimalisasikan
kemampuan-kemampuan individu, agar di kemudia hari dapat memainkan peranan hidup
secara tepat. (Redja Mudiyaharjo 2002:11)
Penyelenggaraan
pedidikan di Indonesia menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat (2),
disebutkan bahwa suatu Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan
Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama,
kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan Islam, baik sebagai sistem maupun
institusinya, merupakan warisan budaya bangsa, yang berakar pada masyarakat
bangsa Indonesia. Dengan demikian jelas bahwa pendidikan Islam merupakan bagian
integral dari sistem pendidikan nasional. (Hasbullah 2005:174)
Kebutuhan akan pendidikan merupakan
hal yang tidak bias di pungkiri bahkan semua itu merupakan hak semua warga
Negara, berkenaan dengan ini, di dalam UUD 45 Pasal 31 ayat (1) secara tegas
disebutkan bahwa: “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran”. 93
Tujuan pendidikan nasional dinyatakan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 Pasal (3)
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negar yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Dalam
perkembangannya, istilah pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh
seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok
orang agar menjadi dewasa. Dengan demikian pendidikan berarti, segala usaha
orang dewasa dalam pergaulan dengan mahasiswa untuk memimpin perkembangan
jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. (Prof. Dr. H. Tamayulis 2004:1)
Dalam firman Allah
SWT, berfirman:
والله أخرجكم من بطون أمّهاتكم لاتعلمون شيئا وجعل لكم السّمع
و الأبصار والأفئدة لعلّكم تشكرون
(النحل:
78.16)
Artinya: Dan Allah mengelurkan kamu dari perut
ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia member kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl. 16-78). ( Al-Qur’an
dan Terjemah 1989:413)
Tidak semua
tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga terutama
dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai
macam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu dikirimlah anak ke sekolah. Dengan
masuknya anak ke sekolah, maka terbentuklah hubungan antara rumah dan sekolah
karena antara kedua lingkungan itu terdapat objek dan tujuan yang sama, yakni
mendidik anak. (DR. Zakiah Daradjat 1992:76)
Agama sebagai dasar pijakan umat
manusia memiliki peran yang sangat besar dalam proses kehidupan manusia. Agama
telah mengatur pola hidup manusia baik dalam hubungannya dengan Tuhannya maupun
berinteraksi dengan sesamanya. Untuk itu sebagai benteng pertahanan diri anak
didik dalam menghadapi berbagai tantangan di atas, kiranya untuk menanamkan
pendidikan agama yang kuat dalam diri anak, sehingga dengan pendidikan agama
ini, pola hidup anak akan terkontrol oleh rambu-rambu yang telah digariskan
agama dan dapat menyelamatkan anak agar tidak terjerumus dalam jurang
keterbelakangan mental.
Pendidikan agama Islam sebagai usaha
membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek kerohanian dan
jasmaninya juga harus berlangsung bertahap. Oleh karena suatu pematangan yang
bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan atau pertumbuhan, baru dapat tercapai
bilamana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir
perkembangan atau pertumbuhannya. (Prof. H. M. Arifin, M.Ed 1987:10)
Dari pengertian di atas, penulis
dapat menyimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah bimbingan jasmani, dan
rohan berdasarkan Al-Qur’an terhadap anak-anak agar terbentuk kepribadian
Muslim yang sempurna.
Pada proposal skripsi ini, penulis
akan mengungkap peranan pendidikan agama Islam terhadap pembentukan akhlak
siswa di SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin.
Judul tersebut penulis pilih atas
dasar pertimbangan sebagai berikut:
1. Pendidikan agama Islam adalah
menanamkan akhlak mulia di dalam jiwa siswa dan masa pertumbuhannya, sehingga
akhlak itu menjadi salah satu kemampuan jiwa.
2. Akhlak merupakan misi yang dibawa Nabi
Muhammad SAW ketika diutus sebagai Rosulullah.
إنّمابعثت لأتمّم مكارم الأخلاق (رواه البخاري)
Artinya: “Sesungguhnay aku
diutus oleh Allah, hanya untuk menyempurnakan akhlak.” HR. Bukhori.
3. Penulis ingin mengetahui bagaiman
peranan pendidikan agama Islam terhadap akhlak siswa di SMP Tunas Pertiwi
Babakan Ciwaringin.
B.
Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.
Pembatasan Masalah
a) Pendidikan agama Islam yang dimaksud di
sini adalah pelaksanaan pendidikan agama Islam dan kegiatan keagamaan di SMP
Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin
b) Akhlak yang dimaksud dalam pembahasan
ini adalah kepribadian dan tingkah laku siswa dalam kehidupan sehari-hari.
2. Perumusan Masalah
Bagaimana peranan pengidikan agama Islam terhadap akhlak siswa
di SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin
C.
Tujuan Penelitian
Penelitian
ini bertujuan untuk menelaah peranan pendidikan agama Islam terhadapat akhlak siswa
di SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin
2) Untuk mengetahui
usaha-usaha apa saja yang dilakukan sekolah dalam mengingkatkan akhlak siswa di
SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin.
D.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini akan berguna untuk:
a) Peneliti sebagai syarat dalam menyelesaikan
tugas mandiri semester 6 jurusan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama
Islam Ma’had Aly Cirebon.
b) SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin,
dalam mengetahui peranan pendidikan agama Islam terhadap akhlak siswa di SMP
Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin.
c) Hasil penelitian ini dapat dijadikan
informasi bagi para pendidik dalam mengetahui faktor-faktor apa saja yang
menjadi peranan terhadap akhlak siswa di SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin.
E.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan tinjauan teoritis yang
dikemukakan di atas, maka penelitian mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah anak didik atau siswa memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran agama,
mempunyai akhlak yang lebih baik dari siswa yang memperoleih nilai rendah.
Berdasarkan pertanyaan di atas maka
dapat diajukan hipotesa sebagai berikut:
Ho: Tidak ada perbedaan akhlak siswa
antara yang memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran agama dengan siswa yang
memperoleh nilai rendah.
Ha: Siswa yang memperoleh nilai
tinggi dalam pelajaran agama memiliki akhlak yang lebih baik jika dibandingkan
dari siswa yang memperoleh nilai rendah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Pendidikan Agama
Islam
a)
Pengertian Pendidikan Agama Islam
Sebelum membahas pengertian pendidikan
agama Islam, penulis akan terlebih dahulu mengemukakan arti pendidikan pada
umumnya. Istilah pendidikan berasal dari kata didik dengan memberinya awalan
“pe” dan akiran “kan” mengandung arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya).
Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie,
yang berartikan bimbingan yang diberkan kepada anak. Istilah ini kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan education yang berarti
pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan
dengan tarbiyah, yang berarti pendidikan. (Prof.
DR. H. Ramayulis 2004:1)
Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa
pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan yang dilakukan secara sadar oleh si
pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju
terbentuknya kepribadian yang utama. (Ahmad D. Marimba 1981:19)
Sedangkan
menurut Ki Hajar Desantara pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya
anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntun kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat
dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya. (Hasbullah
2005:4)
Dari semua defiisi itu, dapat
disimpulan bahwa pendidikan adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dengan
sengaja dan terencana yang dilaksanakan oleh orang dewasa yang memiliki ilmu
dan keterampilan kepada anak didik, demi terciptanya insan kamil.
Menurut hasil seminar pendidikan
agama Islam se Indonesia tanggal 7-11 Mei 1960 di Cipayung Bogor menyatakan:
Pendidikan agama Islam adalah bimbingan terhadapat pertumbuhan jasmani dan
rohani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih,
mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. (Dra. Hj.
Nur Uhbiyati 1998:11)
b) Dasar-dasar Tujuan Pendidikan Agama
Islam
Singkat dan tegas dasar pendidikan
Islam ialah firman Allah dan sunnah Rasulnya Muhammad SAW. (Drs.
Ahmad D. Marimba 1981:41) Kalau pendidikan diibaratkan bangunan maka isi Al-Qur’an dan
haditslah yang menjadi pondasinya.
Yang dimaksud dasar psikologis yaitu
dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat. Hal ini
didasarkan bahwa dalam hidupnya, manusia baik sebagai individu maupun sebagai
anggota masyarakat dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang
dan tidak tentram sehingga memerlukan adanya pegangan hidup. (Abdul
Majid, A.Ag, et.ol 2004:133)
Berbicara pendidikan agama Islam,
baik makna maupn tujuannya haruslah mengacu kepada penananman hilai Islam dan
tidak dibenarkan melupakan etika sosial dan moralitas sosial. Pendidikan agama
Islam di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan mengingkatkan keimanan melalui
pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman
peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia Muslim yang terus
berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, serta
untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (kurikulum
PAI: 2002).
2. Hakekat Akhlak
a) Pengertian Akhlak
Pengertian akhlak secara emtimologi,
perkataan “akhlak” berakar dari bahasa Arab jama’ dari mufradnya “khuluq”
yang menurut bahasa Indonesia diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut
mengandung segi-segi persesuaian dengan “khalkun” yang berarti kejadian
sserta erat hubungan “Khaliq” yang berarti Pencipta dan “makhluq” yang
berarti diciptakan. (Zahruddin AR 2004:1)
Baik kata akhlaq atau khuluq
kedua-duanya dapat dijumpai di dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:
وإنّك
لعلّى خلق عظيم
Artinya: Dan sesungguhnya engkau Muhammad, benar-benar berbudi
pekerti yang agung. (Q.S. Al-Qur’an, 68:4).
Sedangkan menurut pendekatan secara terminologi,
berikut ini beberapa pakar mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut:
1. Ibn Miskawaih
Akhlak adalah keadaan jiwa seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui
pertimbangan pikiran terlebih dahulu. (Zahruddin AR 2004:4)
2. Imam Al-Ghazali
Akhlak adalah suatu sikap yang
mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbutan dengan mudah dan
gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu yang
darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara’
maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika lahir darinya perbutan tercela, maka
sikap tersebut disebut akhlak yang buruk. (Prof. Dr. H. Moh. Ardani 2005:29)
Jika diperhtaikan dengan seksama,
tampak bahwa seluruh definisi akhlak sebagaimana tersebut di atas tidak ada
yang saling bertenganan, melaikan salaing melengkapi, yaitu sifat yang
tertananm kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbutan lahiriah yang dilakukan
dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan.
b) Sumber dan
Macam-macam Akhlak
1. Sumber Akhlak
Akhlak
Islam, sebab merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepada kepercayaan
terhadap Allah, maka tentunya sesuai pula dengan dasar dari pada agama itu
sendiri. Dengan demikian, dasar atau sumber pokok dari akhlak adalah Al-Qur’an
dan Al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama itu sendiri. (Drs. H.
A. Mustofa 1997:149)
Pribadi Nabi Muhammad SAW adalah
contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian.
Begitu juga sahabat-sahabatnya yang selalu berdoman kepada Al-Qur’an dan
As-Sunnah dalam berprilaku keseharian.
2. Macam-macam Akhlak
a) Akhlak Al-Karimah
Akhlak Al-Karimah atau akhlak yang
mulia sangat amat banyak jumlahnya, namun dilihat dari segi hubungan manusia
dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, akhlak yang mulia itu dibagi menjadi
tiga bagian, yaitu:
1. Akhlak Terhadap
Allah
Aklak terhadap Allah adalah
pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki
sifat-sifat terpuji demikian agung sifat itu, yang jangankan manusia, malaikat
pun tidak akan menjangkau hakekatnya.
2. Akhlak Terhadap
Diri Sendiri
Akhlak yang baik terhadap diri
sendiri dapat diartikan menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga diri
dengan sebaik-baiknya, karena sadar bahwa dirinya itu sebagai ciptaan dan
amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Contohnya:
Menghindari minuman yang beralkohol, menjaga kesucian jiwa, hidup sederhana
serta jujur dan menhindari perbutan yang tercela.
3. Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Manusia
adalah makhluk sosial yang kelanjutan eksistensinya secara fingsional dan
optimal banyak bergantung pada orang lain, untuk itu ia perlu bekerjasama dan
saling tolong-menolong dengan orang lain tersebut. Islam menganjurkan berakhlak
yang baik kepada saudara, karena ia berjasa dalam iut serta mendewasakan kita
dan merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Caranya dapat dilakukank
dengan memuliakannya memberikan bantuan, pertologan dan mengharainya. (Prof.
Dr. H. Moh. Ardani 2005:49-57)
b) Akhlak Al-Mazmumah
Aklak Al-Mazmumah atau akhlak yang
tercela adalah sebagai antonim dari akhlak yang baik sebagaimana tertulis di
atas. Dalam ajaran Islam tetap membicarakan secara terperinci dengan tujuan
agar dapat dipahami dengan benar, dan dapat diketahui cara-cara menjauhinya.
Berdasarkan petunjuk ajaran Islam
dijumpai berbagai macam akhlak yang tercela, di antaranya:
1. Berbohong
Berbohong adalah memberikan atau
menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
2. Takabur atau
sombong
Takabur adalah merasa atau mengaku
dirinya besar, tinggi, mulia, melebihi orang lain. Pendek katanya yaitu merasa
dirinya lebih hebat.
3. Dengki
Dengki
adalah rasa atau sikap tidak sengan atas kenikmatan yang diperoleh orang lain.
4. Bakhil atau kikir
Bakhil atau kikir adalah sifat sukar
mengurangi sebagian dari apa yang dimiliki untuk berbagi dengan orang lain.
c) Tujuan Akhlak
Tujuan dari
pendidikan akhlak dalam Islam adalah untuk membentuk manusia yang bermoral
baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbutan, mulia dalam tingkah
laku perangai, bersifat bijasana, sempuna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur
serta suci. Dengan kata lain pendidikan akhlak bertujuan untuk melahirkan
manusia yang memiliki keutamaan. Berdasarkan tujuan ini, maka setiap saat,
keadaan, pelajaran, aktifitas merupakan saranan pendidikan akhlak. Dan setiap
pendidikan harus memelihara akhlak dan memperhatikan akhlak di atas
segala-galanya. (Prof. DR. H. Ramayulis 2004:115)
Barmawie
Umary dalam bukunya materi akhlak menyebutkan bahwa tujuan berakhlak adalah
hubungan umat islam dengan Allah SWT dan sesama makhluk selalu terpelihara
dengan baik dan harmonis. (Drs. Barnawie Umary 1988:2)
Dari pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa tujuan akhlak pada prinsipnya adalah untuk mencapai
kebahagiaan dan keharmonisan dalam berhubungan
dengan Allah SWT, di samping berhubungan dengan sesama makhluk dan juga
alam sekitar, hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan
sempurna serta lebih dari makhluk lainnya.
B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan kerangka teori yang
telah dikemukakan di atas, maka dapat memahami dengan jelas betapa pentingnya
pendidikan bagi kelangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dengan begitu semua bisa tercerahkan serta bisa memberi pencerahan kepada
generasi penerus sehingga dapat mengapikasikannya dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena pendidikan tidak hanya
menciptakan generasi yang cerdas secara intelektual saja, tapi juga generasi
yang mempunyai akhlakul karimah serta santun dalam bersosialisasi dengan
lingungannya.
Pendidikan agama Islam adalah
bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan Al-Qur’an terhadap anak-anak agar
terbentuk kepribadian Muslim yang sempurna. Sedangakn lembaga adalah tempat
berlangsunya proses bimbingan jasmani dan rohan berdasarkan Al-Quraa’an yang
dilakukan oleh orang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia
berkepribadian Muslim.
RA Al-Hikam Malang sebagai salah
satu institusi yang menyelenggarakan pendidikan diharapkan dapat memberikan
motivasi bagi anak-anak didinya untuk menjadi bagian dari Sumber Daya Manusia
yang unggul di segala bidang, khususnya dalam pembentukan kepribadian Muslim
yang sempurna.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan
Penelitaan
Metode yang digunakan dalam membahas
proposal ini adalah metode deskriftif analisis. Deskritif digunakan agar mampu
memahami dan memberikan gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang terkait
dengan isi proposal skripsi ini. analitis dipakai agar penulis dapat menyusun proposal skripsi ini dalam bentuk
yang sistematis sehingga mengena pada inti permasalahan dan memperoleh hasil
penelitian yang benar.
B. Waktu dan Tempat
Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di
SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin dan membutuhkan waktu sekurang-kurangnya 3
bulan.
C. Populasi dan
Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi
adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda,
tumbuh-tumbuhan dan peristiwa sebagai sumber data yang mempunyai karakteristik
tertentu dalam sebuah penelitan. (Herman Resito 1992:49)
Adapun populasi pada
penelitian ini adalah siswa di SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin.
2. Sampel Penelitian
Sampel
adalah sebagian dari populasi yang memiliki sifat karakteristik yang sama
sehingga betul-betul mewakili populasi. (Nana Sudjana dan Ibrahim 1989:84)
Teknik pengambilan sampel yang
digunakan dalam penelitian ini dengan teknik random sampling, yakni pengambilan
secara acak dari jumlah populasi.
D. Teknik Pengumpulan
Data
Adapun penelitian yang dilakukan
oleh penulis adalah penelitian lapangan (field research), yaitu suatu
penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke obyek penelitian. Untuk
memperoleh data-data lapangan ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data
sebagai berikut:
1. Observasi
Sebagai metode ilmiah observasi
diartiakn dengan pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena
yang diselidiki. Observasi ii mengadakan pengamatan dengan mencatat data atau
informasi yang diperlukan dan dibutuhkan sesuai dengan masalah yang diikuti.
2. Dokumentasi
Suatu usaha aktif baik suatu badan
atau lembaga dengan menyajikan hasil pengolahan bahan-bahan dokumen yang
bermanfaat bagi badan atau lembaga yang mengadakan. Dokumen ini dilakukan untuk
memperoleh data sejarah didirikannya SMP Tunas Pertiwi Babakan Ciwaringin,
keadaan sarana dan prasarana dan juga data-data guru SMP Tunas Pertiwi Babakan
Ciwaringin.
3. Angket
Dengan metode angket ini penulis
mempersiapkan sejumlah pertanyaan tertentu, kemudian diseberkan kepada responen,
untuk mendapatkan jawaban yang diperlukan secara langsung. Angket diberikan
kepada siswa untuk diisi untuk dijadikan sampel dalam penelitian untuk
mengetahui pengaruh pendidikan agama Islam terhadap pembentukan akhlak siswa.
Angket yang digunakan penulis adalah angket tertutup yang berisi pertanyaan
yang disertai jawaban terikat pada sejumlah kemungkinan jawaban yang sudah
disediakan.
E. Teknik Analisis Data
Setelah data selesai dikumpulkan
dengan lengkap, tahap berikutnya adalah analisa data, yaitu:
1. Editing
Mengedit adalah memeriksa daftar
pertanyaan yang telah diserahkan oleh para responden. Jadi setelah angket dan
tes diisi oleh responden dan diserahkan kembali kepada penulis, kemudian
penulis memeriksa satu per satu angket dan tes tersebut. Bila ada jawabanyang
diragukan atau tidak dijawab maka penulis menghubungi responden yang
bersangkutan untuk menyempurnakan jawabannya.
Tujuan editing yang penulis lakukan
adalah untuk mengurangi kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang ada pada daftar
pertanyaan yang diselesaikan.
2. Tabulating
Tabulating adalah mengelolah data
dengan memindahkan jawaban-jawaban yang terdapat dalam angket dan telah
dikelompokan ke dalam bentuk bable frekuensi.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad D. Marimba (1981). Pengantar Filsafat Pendidikan Islam,
Bandung. PT. Al-Ma’arif
AR, Zahruddin (2004).
Pengatar Ilmu Akhlak, Jakarta. PT Grafindo Persada
Dra. Hj. Nur Uhbiyati
(1998). Ilmu Pendidikan Islam, Bandung. CV. Pustaka Setia
Drs. Ahmad D. Marimba
(1981). Metodik khusus Islam, Bandung. PT. Al-Ma’arif
Drs. Barnawie Umary
(1988). Materi Akhlak, Solo. CV Ramadhani
Drs. H. A. Mustofa (1997).
Akhlak Tasawuf, Bandung. CV Pustaka Setia
Hasbullah (2005). Dasar-dasar
Ilmu Pendidikan, Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada
Majid, Abdul, A.Ag, et.ol
(2004). Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung. PT Remaja Rosdakarta
Prof. DR. H.
Ramayulis (2004). Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta. Kalam Mulia
Prof. Dr. H. Moh.
Ardani (2005). Akhlak Tasawuf, Jakart. PT. MitraCahaya Utama
Resito, Herman (1992).
Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Sudjana, Nana dan
Ibrahim (1989). Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung. Sinar Baru
Komentar
Posting Komentar